Arsip ‘Cetusan’ Kategori

Wahyu dan Wujud


2010
05.06

Agama ibarat sebuah bangunan. Ia memiliki fondasi dan konstruksi yang menyusunnya menjadi sebuah bentuk yang kokoh. Ketika ia tumbuh dan berkembang, maka ia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan konstruksinya, tetapi sesungguhnya kekuatannya bukan pada konstruksi, melainkan fondasi. Konstruksi hanya akan menentukan nilai, tapi fondasi menentukan kekuatan.

Nilai tanpa kekuatan hanyalah bersifat temporer. Ia hanya akan laku seiring trend yang terbentuk dalam masyarakat tetapi pada akhirnya lapuk juga oleh perjalanan waktu. Apalagi, jika hantaman badai terlalu kuat menerpanya, maka ia akan runtuh dengan sendirinya.  (more…)

Kepemimpinan Kristen


2009
10.12

“ο δε μείζων υμων ἔσται υμων διάκονος”
ho de meizōn humōn estai humōn diakonos
(Matius 23:11)

Seiring berkembangnya peradaban manusia, yang merupakan buah dari perubahan pola pikir dan gaya hidup yang terus-menerus terjadi, maka tantangan kehidupan manusia pun kian kompleks. Berbagai persoalan global silih berganti, mulai dari persoalan lokal dalam masyarakat tertentu, hingga ke persoalan global yang menyita perhatian bersama.

Ancaman pemanasan global yang terus-menerus didengung-dengungkan oleh para pecinta lingkungan, sontak membangunkan kita dari keterbuaian dengan fantastisnya perkembangan teknologi. Mata kita betul-betul dimelekkan dari kenyataan bahwa bumi kita bukan lagi tempat yang aman dan nyaman untuk dihuni oleh generasi mendatang, anak cucu kita. (more…)

Teologi Ekologi


2008
09.19

Dalam tradisi Yahudi, alam bukan suatu abstraksi maupun ideal, melainkan lebih merupakan dimana manusia berinteraksi dengan TUHAN.

“Alam digambarkan sebagai salah satu ruang lingkup dimana secara personal bertemu TUHAN dengan manusia, dan dimana ia dipanggil untuk menjalankan tanggung jawab”[1]

Makanya di dalam Yudaisme, pandangan manusia mengenai alam dan lingkungan didasarkan pada kewajiban-kewajiban dan kegiatan-kegiatan khusus hidup bangsa Yahudi, tugas dan perintah yang diberikan TUHAN kepada manusia. (more…)

Langit Memerah, Bumi Membara


2008
09.19

Dari zaman ke zaman, pemikiran manusia terus-menerus mengalami perubahan. Dari pemikiran yang disebut “klasik” hingga pemikiran “modern” dan bahkan “post-modern.” Perkembangan pemikiran manusia selanjutnya melahirkan metode-metode baru untuk menjawab setiap tantangan zaman yang dihadapi manusia.

Sayangnya, usaha-usaha manusia lebih terfokus pada upaya-upaya mempermudah kerja, sehingga manusia makin kehilangan orientasi terhadap alam. Teknologi-teknologi buah karya manusia menambah panjang deretan usaha untuk mengeksploitasi alam, mengeruk isi bumi dan akhirnya merusak keseimbangan ekosistem. (more…)

Berbeda Tanpa Konflik


2005
07.12

Setiap masyarakat Indonesia menyadari akan keberagaman di negaranya, baik keberagaman suku, ras, agama, golongan, dan sebagainya. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia memiliki kesadaran bahwa keberagaman ini adalah anugerah TUHAN yang patut untuk disyukuri. Belum lagi, adanya oknum-oknum atau kelompok-kelompok tertentu yang gemar sekali mengutak-atik keberagaman ini dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Karenanya, keberagaman di negara kita ini sering menjadi pemicu munculnya berbagai konflik, baik keberagaman suku, agama, ras, golongan, dan sebagainya. Yang sangat memprihatinkan adalah meskipun konflik itu telah terjadi berulang-ulang di negara ini, namun, kesadaran untuk mencarikan jalan keluarnya masih minim. (more…)


Newsletter plugin provided by http://casinoonline.se.com

Shalom STT Apostolos Jakarta

Log in

Lost your password?

Register For This Site

Join

Join us as we spread the word.