Arsip ‘Artikel’ Kategori
2010
11.03
Tags: Islam, kalam, kristen, logos, meeting point, monoteisme, tauhid, trinitas
Posted in Artikel, Dogmatika, Orasi Ilmiah, Teologi Religionum | No Comments »
Yeshua (Jesus) answered, “The most important is, ‘Sh’ma Yisra’el, Adonai Eloheinu, Adonai Echad [Hear, O Isra’el, the Lord our God, the Lord is one]…’” (Mark 12:29)[1]
Katakanlah: Wahai Ahli Kitab (orang-orang Yahudi dan Kristen), Marilah kita berpegang kepada satu kalimat yang tidak ada perselisihan di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kepada selain Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak pula kita jadi sebagian yang lain menjadi Ilah selain Allah (Surah Ali Imran/3:64)
Kitab Suci Kristen dan Islam sebenarnya memandang tauhid (monoteisme, “paham yang meng-Esa-kan TUHAN”) sebagai “meeting point” dalam dialog Kristen-Islam, agar tercipta saling pengertian yang baik. Yesus sendiri menyebut tauhid sebagai “hukum yang terutama,” yang oleh al-Qur’an diajukan sebagai syarat dialog untuk tercapainya kalimatun sawa’ (titik temu, meeting point). (more…)
2010
05.06
Tags: agama, aqidah, dogma, Lyotard, Rudolf Otto, teologi, wahyu, wujud
Posted in Artikel, Cetusan | No Comments »
Agama ibarat sebuah bangunan. Ia memiliki fondasi dan konstruksi yang menyusunnya menjadi sebuah bentuk yang kokoh. Ketika ia tumbuh dan berkembang, maka ia akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan konstruksinya, tetapi sesungguhnya kekuatannya bukan pada konstruksi, melainkan fondasi. Konstruksi hanya akan menentukan nilai, tapi fondasi menentukan kekuatan.
Nilai tanpa kekuatan hanyalah bersifat temporer. Ia hanya akan laku seiring trend yang terbentuk dalam masyarakat tetapi pada akhirnya lapuk juga oleh perjalanan waktu. Apalagi, jika hantaman badai terlalu kuat menerpanya, maka ia akan runtuh dengan sendirinya. (more…)
2009
10.12
Tags: Ahasyweros, Ester, globalisasi, Haman, kepemimpinan, kristen, leadership, Mordekhai, Raja Agag, Raja Saul, Xerxes, Yahudi
Posted in Artikel, Cetusan | No Comments »
“ο δε μείζων υμων ἔσται υμων διάκονος”
ho de meizōn humōn estai humōn diakonos
(Matius 23:11)
Seiring berkembangnya peradaban manusia, yang merupakan buah dari perubahan pola pikir dan gaya hidup yang terus-menerus terjadi, maka tantangan kehidupan manusia pun kian kompleks. Berbagai persoalan global silih berganti, mulai dari persoalan lokal dalam masyarakat tertentu, hingga ke persoalan global yang menyita perhatian bersama.
Ancaman pemanasan global yang terus-menerus didengung-dengungkan oleh para pecinta lingkungan, sontak membangunkan kita dari keterbuaian dengan fantastisnya perkembangan teknologi. Mata kita betul-betul dimelekkan dari kenyataan bahwa bumi kita bukan lagi tempat yang aman dan nyaman untuk dihuni oleh generasi mendatang, anak cucu kita. (more…)
2008
09.19
Tags: teologi ekologi, Yahudi, Yudaisme
Posted in Artikel, Biblika, Cetusan, Teologi Kontemporer | No Comments »
Dalam tradisi Yahudi, alam bukan suatu abstraksi maupun ideal, melainkan lebih merupakan dimana manusia berinteraksi dengan TUHAN.
“Alam digambarkan sebagai salah satu ruang lingkup dimana secara personal bertemu TUHAN dengan manusia, dan dimana ia dipanggil untuk menjalankan tanggung jawab”[1]
Makanya di dalam Yudaisme, pandangan manusia mengenai alam dan lingkungan didasarkan pada kewajiban-kewajiban dan kegiatan-kegiatan khusus hidup bangsa Yahudi, tugas dan perintah yang diberikan TUHAN kepada manusia. (more…)
2008
09.19
Tags: Abraham Joshua Heschel, Acta Apostolicae Sedis, against nature, AGAPE, Alfred North Whitehead, anthropocentric, Catherine Keller, Centesimus Annus, creation theology, Dewan Gereja Dunia, ecocentric, ekologi, Fransiskus Assisi, global warming, healing nature, Imago Dei, John Cobb, Jurgen Moltmann, Lalorem Exercens, Lynn Townsend White Jr, Martin Buber, Matthew Fox, Paus Yohanes Paulus II, Pierre Teilhard de Chardin, Rosemary Radford Ruether, Sallie McFagueteologi ekologiekoteologiecotheology, Sayyid Hussein Nasr, Solicitudo Rei Socialis, Thomas Berry, Vandana Shiva, WCC, World Council of Churches
Posted in Artikel, Cetusan, Teologi Kontemporer | No Comments »
Dari zaman ke zaman, pemikiran manusia terus-menerus mengalami perubahan. Dari pemikiran yang disebut “klasik” hingga pemikiran “modern” dan bahkan “post-modern.” Perkembangan pemikiran manusia selanjutnya melahirkan metode-metode baru untuk menjawab setiap tantangan zaman yang dihadapi manusia.
Sayangnya, usaha-usaha manusia lebih terfokus pada upaya-upaya mempermudah kerja, sehingga manusia makin kehilangan orientasi terhadap alam. Teknologi-teknologi buah karya manusia menambah panjang deretan usaha untuk mengeksploitasi alam, mengeruk isi bumi dan akhirnya merusak keseimbangan ekosistem. (more…)
2008
05.16
Tags: Islam, syari'at, syariat Islam, Syarikat Dagang Islam, Syarikat Islam Indonesia
Posted in Artikel, Teologi Religionum | No Comments »
Perbincangan mengenai syari’at Islam bukanlah hal baru di negeri ini. Bahkan, perbincangan mengenai syari’at Islam tak hanya melulu menjadi konsumsi orang-orang Islam semata. Ia bahkan diperbincangkan dengan sangat runcing oleh berbagai kalangan non-Muslim, termasuk kekristenan. Bagaimana tidak, syari’at Islam telah dikembangkan menjadi isu penting dalam hubungan antar-agama, khususnya Kristen-Islam.
Setiap kali ada persoalan dalam hubungan antara kedua agama Semit ini, selalu saja persoalan syari’at Islam menggelembung dan diangkat menjadi salah satu isu yang mewarnai silang pendapat soal hubungan antara kedua agama. (more…)
2006
05.26
Tags: David Ray Griffin, fundamentalisme, global village, Islam, kerajaan surga, kristen, new age, religiusitas profetis, teologi kontemporer, Yudaisme
Posted in Artikel, Orasi Ilmiah | No Comments »
Konsep keimanan Kristen tidak bisa dilepaskan begitu saja dari konsep pemikiran Yudaisme yang telah mendahuluinya beberapa ribu tahun sebelumnya. Bahkan, pada periode Yesus, pemikiran teologi dalam Yudaisme terus mengalami perkembangan seiring dengan pergumulan teologi umat pada waktu itu.
Karenanya, ketika kita berbicara tentang “Kerajaan TUHAN,” maka kita tidak bisa lepas juga dari konsepsi awal mengenai “Kerajaan TUHAN” yang berkembang dalam pemikiran Yudaisme. Problemnya adalah kesulitan melacak literatur-literatur Yudaisme di negara yang belum atau mungkin tidak akan mengakui Yahudi sebagai salah satu agama resminya ini. Suatu dilema yang cukup memprihatinkan bagi perkembangan studi teologi di negara ini. (more…)
2005
07.12
Posted in Artikel, Cetusan, Teologi Religionum | No Comments »
Setiap masyarakat Indonesia menyadari akan keberagaman di negaranya, baik keberagaman suku, ras, agama, golongan, dan sebagainya. Namun, tidak semua masyarakat Indonesia memiliki kesadaran bahwa keberagaman ini adalah anugerah TUHAN yang patut untuk disyukuri. Belum lagi, adanya oknum-oknum atau kelompok-kelompok tertentu yang gemar sekali mengutak-atik keberagaman ini dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya.
Karenanya, keberagaman di negara kita ini sering menjadi pemicu munculnya berbagai konflik, baik keberagaman suku, agama, ras, golongan, dan sebagainya. Yang sangat memprihatinkan adalah meskipun konflik itu telah terjadi berulang-ulang di negara ini, namun, kesadaran untuk mencarikan jalan keluarnya masih minim. (more…)
2005
07.01
Tags: Asy’ariah, claims of truth, dialog, double standard, Franz Magnis-Suseno, Gerrit Singgih, Islam, Jusuf Roni, Kalamullah, Kautsar Azhari Noer, kristen, Marthin Luther, meeting point, Mencius, Mukti Ali, paralelisasi, paralelisme, proselitisme, Ruhullah, soteriologi, standard ganda, STT Apostolos, tauhid, Teofilus, Th. Sumartana, trinitas, Wujudullah
Posted in Artikel, Teologi Religionum | No Comments »
Dialog antar-umat beragama merupakan suatu upaya yang sudah lama dilakukan di Indonesia. Namun, konflik antar-umat beragam tetap saja terjadi. Kasus Ambon dan Poso merupakan contoh kasus yang menunjukkan betapa rapuhnya hubungan antar-umat beragama di Indonesia.
Meskipun kemudian diyakini bahwa konflik-konflik tersebut dimuati oleh berbagai kepentingan politik. Namun, sentimen-sentimen agama yang mewarnai konflik-konflik tersebut sangat kental. Pihak-pihak yang bertikai dikelompokkan berdasarkan agama, bukan suku, politik, atau kelompok-kelompok tertentu. (more…)